Ramadhan, bulan paling suci dan dinanti dalam kalender tahunan Islam, segera tiba. Akhir pekan ini, hampir dua miliar Muslim di seluruh dunia akan memulai ibadah puasa selama satu bulan penuh. Selama bulan ini, mereka berpuasa dari fajar hingga matahari terbenam, menahan diri dari makan dan minum. Jika Anda belum familiar dengan Ramadhan, berikut adalah beberapa hal penting yang perlu diketahui.
Ramadhan adalah waktu untuk pembaruan spiritual iman yang mendalam, mendorong disiplin, rasa syukur, dan koneksi – dampaknya melampaui sekadar menahan diri dari makan dan minum.
Selain manfaat kesehatan fisik dari berpuasa yang telah lama diketahui, Ramadhan juga memperkuat dan memelihara jiwa manusia. Ada beberapa aspek yang sangat menonjol.
Berpuasa untuk Kemurnian Jiwa
Nabi Muhammad mendorong umatnya untuk mengejar bentuk puasa spiritual yang paling tinggi dan holistik dengan menghilangkan gangguan/nafsu—seperti makan dan minum—dan fokus pada hubungan yang lebih mendalam dengan Sang Pencipta.
Sebagai hasilnya, Ramadhan menjadi waktu terbaik untuk refleksi spiritual yang lebih mendalam dan penemuan sejati diri, Bulan ini menawarkan kesempatan bagi mereka yang menjalankannya untuk berhenti sejenak, menyelaraskan kembali niat, dan berusaha menjadi versi terbaik diri mereka. Idealnya, transformasi ini melampaui bulan Ramadhan, diharapkan dapat membentuk karakter dan tindakan mereka sepanjang tahun.
Sebagaimana dijelaskan oleh ulama Muslim awal abad ke-20, Bediüzzaman Said Nursi, tujuannya adalah melibatkan semua aspek batin dan lahiriah dalam puasa spiritual dan memasuki keadaan yang hampir seperti malaikat.
Menghindari perasaan, pikiran dan tindakan negatif adalah salah satu aspirasi dalam berpuasa. Lebih dari sebelumnya, umat Muslim berusaha menjauhkan diri dari ucapan buruk seperti bergosip, marah, dan tidak jujur. Fokusnya adalah pada pemurnian diri dan pengembangan karakter moral. Menahan diri dari ucapan, pandangan, dan perilaku yang tidak pantas adalah cara untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi dari kegiatan berpuasa ini.
Dalam proses pengabdian penuh dan kontemplasi mendalam, orang yang berpuasa berusaha untuk menumbuhkan kesadaran yang lebih besar dan melakukan kebajikan penting lainnya seperti kasih sayang, kebaikan, kerendahan hati, kesabaran, ketekunan, dan ketahanan. Dalam hal ini, Al-Qur'an—yang pertama kali diturunkan pada bulan Ramadhan—menjadi panduan utama untuk menjalani periode transformasi diri secara spiritual ini.
Merangkul Kesederhanaan: Manfaat dari Kehidupan yang Minimalis
Dalam dunia yang yang penuh sifat konsumtif, Ramadhan mengingatkan jiwa manusia melalui pantangan yang lembut dan moderat, bahwa kembali ke hal-hal esensial adalah kesehatan bagi jiwa dan raga manusia.
Mengonsumsi terlalu banyak makanan olahan dan berlebihan tidak bermanfaat bagi gaya hidup sehat. Kehidupan yang sederhana dan penuh rasa syukur memungkinkan jiwa untuk bernapas kembali. Hal ini menumbuhkan rasa hormat yang lebih besar terhadap sumber daya alam bumi kita.
Sifat boros dan berlebihan harus dihindari. Memahami bahwa seseorang tidak membutuhkan banyak untuk merasa puas adalah momen pembebasan batin yang kuat. Selain itu, Ramadhan mengajarkan agar kita meningkatkan rasa syukur dan lebih menghargai nilai hal mendasar seperti air dan makanan pokok.
Esensialisme juga mencakup meminimalkan nafsu, membersihkan hati dari beban berat, dan membebaskan diri dari hubungan yang beracun. Menjauhkan diri dari stres dan iri hati serta membatasi gaya hidup materialistis adalah cara yang baik untuk hidup penuh kesederhanaan.
Termasuk juga jeda digital dari media sosial, jika terlalu mengganggu dan mempengaruhi kesejahteraan mental seseorang, juga tampaknya hal bijaksana yang bisa dilakukan.. Ramadhan adalah waktu untuk introspeksi diri dan menilai kembali makna kehidupan dan hubungan sekitar.
Menguatkan Ikatan
Makanan yang dinikmati di hari oetang sering kali disiapkan oleh banyak tangan manusia yang bekerja bersama. Lebih dari sebelumnya, Ramadhan mengingatkan tentang saling ketergantungan antar manusia dan kebutuhan mendasar kita satu sama lain.
Ada rasa kebersamaan, solidaritas, dan amal yang meningkat. Dasarnya, Ramadhan mengajak manusia untuk saling menguatkan dan memperkuat dengan berbagi kekayaan dan rezeki secara murah hati. Dalam momentum berbagi ini, umat Muslim biasanya menyumbangkan 2,5 persen dari kekayaan mereka kepada yang individu yang membutuhkan sebagai pemenuhan kewajiban zakat mereka. Mereka juga mengadakan dan mensponsori banyak aktivitas iftar (buka puasa) bersama bahkan juga mengundang tetangga non-Muslim mereka untuk bergabung. Program-program ini adalah kesempatan yang luar biasa untuk belajar dan saling terhubung.
Selain itu, membangun koneksi sosial yang sehat dan bermakna adalah kunci untuk kesejahteraan dan vitalitas manusia.
Bulan suci ini mengundang orang untuk menjalin hubungan sosial dan melengkapi kebutuhan emosional dan mental satu sama lain. Kesepian sangat merugikan kesehatan jiwa manusia. Ikatan komunitas yang kuat sangat penting untuk kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Buka puasa bersama, menghabiskan lebih banyak waktu dalam doa bersama, saling menjangkau melalui tindakan kebaikan dan amal – semua ini membantu melawan isolasi dan menumbuhkan rasa memiliki satu sama lain yang lebih tinggi.
Dalam semangat Ramadhan ini, Ramadhan menghadirkan mandat untuk menjawab secara holistik kebutuhan sesama manusia. Memberikan perhatian kepada keluarga, kerabat, teman, tetangga, dan sesama manusia adalah aspek penting dari puasa. Berusaha untuk melepaskan dendam dan kebencian, mencoba saling memaafkan dan berdamai adalah cara untuk membersihkan dan memurnikan hati dari semua beban yang tidak perlu.
Dengan semua alasan diatas dan banyak berbagai alasan lain, Ramadhan telah dengan tepat digambarkan sebagai bulan penuh rahmat dan selalu disambut gembira oleh umat Muslim, sebagai kesempatan untuk membersihkan diri kembali dan pembaruan spiritual keimanan. Dengan fokus pada pengembangan diri dan pembangunan komunitas yang sehat, Masyarakat non-Muslim juga dapat menghargai banyak manfaat dari musim spiritual Ramadhan yang kaya ini.