Perkembangan cepat dalam dinamika perdagangan global memiliki dampak mendalam bagi ekonomi yang bergantung pada ekspor, seperti Jerman.
Dengan terpilihnya kembali Donald Trump sebagai Presiden AS, prospek tarif yang lebih tinggi semakin mengancam stabilitas ekonomi Jerman.
Selama beberapa dekade, Jerman sangat bergantung pada AS sebagai mitra dagang utama, namun ketergantungan ini semakin membuka kerentanannya di ekonomi terbesar Eropa.
AS tetap menjadi importir terbesar barang-barang Jerman. Pada 2023, Jerman mengekspor barang senilai €157,9 miliar ke AS, yang mewakili hampir sepuluh persen dari total ekspornya. Ini menjadikan AS sebagai pasar yang sangat penting, khususnya bagi sektor otomotif dan industri Jerman.
Namun, tarif yang diusulkan oleh Trump 25 persen untuk impor dari Kanada dan Meksiko, 10 persen untuk produk-produk Eropa, dan hingga 60 persen untuk barang-barang China dapat merusak posisi Jerman di pasar krusial ini.
Jika Trump melanjutkan ancamannya, ekspor Jerman ke AS bisa turun hingga 15 persen.
Sektor otomotif dan industri, yang merupakan tulang punggung ekonomi Jerman, diperkirakan akan menjadi yang paling terdampak. Industri otomotif Jerman, yang menjadi pilar utama keberhasilan ekonominya, mungkin kesulitan untuk merebut kembali pangsa pasarnya di AS.
Para ekonom memperingatkan bahwa langkah-langkah proteksionis ini bisa mendorong tidak hanya Jerman, tetapi juga Eropa secara keseluruhan, menuju stagnasi ekonomi.
Moritz Schularick, Presiden Institut Ekonomi Dunia Kiel (IfW), menyoroti potensi dampak merusak dari tarif semacam itu terhadap ekonomi Jerman.
Sementara itu, Menteri Urusan Ekonomi Federal Robert Habeck telah menyerukan dialog, mendesak Uni Eropa untuk merespons secara bersatu.
Ketakutan terbesar muncul dari ancaman Trump untuk mengenakan tarif hingga 60 persen terhadap barang-barang dari China, yang tidak hanya akan mempengaruhi China tetapi juga mengguncang rantai pasokan global, berdampak pada Eropa dan Jerman. Pembatasan ini dapat meningkatkan biaya produksi dan melemahkan posisi Jerman dalam perdagangan internasional.
Jika kebijakan proteksionis Trump benar-benar terwujud, ini bisa merusak hubungan Jerman dengan mitra dagang utamanya dan membawa negara tersebut ke dalam resesi.
Tantangan ekonomi yang meningkat di Jerman
Secara internal, Jerman menghadapi tantangan ekonomi tambahan. Inflasi terus meningkat, sementara pemutusan hubungan kerja massal oleh perusahaan-perusahaan besar semakin mengguncang perekonomian.
Pada November 2024, harga barang dan jasa naik lebih dari dua persen dibandingkan tahun sebelumnya, yang mengikis daya beli konsumen dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, perusahaan-perusahaan terkemuka Jerman mengumumkan pengurangan tenaga kerja yang drastis.
Volkswagen berencana menutup tiga pabrik dan memberhentikan ribuan karyawan. Thyssenkrupp, raksasa industri baja, berencana untuk mengurangi sekitar 11.000 pekerjaan pada 2030. Deutsche Bahn melaporkan kerugian €1,2 miliar pada paruh pertama 2024 dan berencana untuk merumahkan sekitar 30.000 pekerja pada 2029.
Bosch juga mengumumkan pemotongan 5.500 pekerjaan tambahan. Secara total, pemutusan hubungan kerja ini melampaui 120.000 posisi, yang semakin melemahkan daya saing ekonomi Jerman dan meningkatkan ketidakpastian.
Jerman juga menghadapi tantangan demografis: populasi yang menua yang menyebabkan kekurangan tenaga kerja terampil yang parah. Untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan menstabilkan sistem jaminan sosialnya, Jerman semakin bergantung pada pekerja asing.
Namun, menarik dan mempertahankan bakat internasional memerlukan penghapusan hambatan struktural untuk memastikan Jerman tetap kompetitif sebagai tujuan global bagi profesional terampil.
Untuk mencapai hal ini, Jerman harus mengadopsi kebijakan inklusif yang menarik dan mengintegrasikan pekerja asing.
Rasisme dan xenofobia mencoreng citra internasional negara ini dan menghalangi integrasi sukses talenta asing.
Memerangi diskriminasi dan memperkuat kohesi sosial sangat penting untuk stabilitas ekonomi dan sosial Jerman.
Proses integrasi yang lebih cepat juga akan membantu pekerja asing berkontribusi lebih efektif pada ekonomi dan sistem pendidikan Jerman.
Digitalisasi dan inovasi harus memainkan peran yang lebih besar dalam menghidupkan kembali pasar tenaga kerja. Kemajuan teknologi yang lebih baik, terutama di sektor industri dan layanan, akan menciptakan peluang bagi pekerja domestik dan asing.
Pasar tenaga kerja yang mengarah pada teknologi akan memperkuat daya saing global Jerman dan menjadikannya tujuan yang lebih menarik bagi profesional terampil di seluruh dunia.
Langkah penting lainnya adalah mengurangi hambatan birokrasi. Proses izin kerja yang panjang dan rumit menghalangi banyak individu berkualitas tinggi, yang sering kali memilih untuk bekerja di negara lain.
Menyederhanakan prosedur ini akan meningkatkan posisi Jerman di pasar tenaga kerja global dan membuatnya lebih kompetitif.
Merefleksikan Ketergantungan Perdagangan
China telah membuat kemajuan luar biasa dalam beberapa tahun terakhir untuk memperkuat ekonominya menghadapi guncangan eksternal.
Pada tahun 2000, hampir 48 persen perdagangan China dilakukan dengan negara-negara G7; pada 2024, angka ini turun menjadi 30 persen.
Demikian pula, perdagangan dengan AS mengalami penurunan signifikan. Meskipun China mengekspor barang senilai $536 miliar ke AS pada 2022, angka ini turun 20% pada 2023.
Untuk mengimbangi kerugian ini, China fokus pada pembentukan kesepakatan perdagangan dan investasi infrastruktur di pasar negara berkembang.
Diversifikasi strategis ini memberikan pelajaran berharga bagi Jerman.
Ketergantungan besar Jerman pada perdagangan dengan AS dan China membuatnya rentan terhadap risiko ekonomi yang signifikan.
Dengan membangun hubungan yang lebih kuat dengan pasar negara berkembang di Afrika, Asia Tenggara, dan Amerika Selatan, Jerman dapat mengurangi kerentanannya.
Namun, pergeseran ini harus didukung oleh investasi yang kuat dalam digitalisasi dan energi berkelanjutan, memastikan kerangka ekonomi yang modern dan tangguh.
Dengan mengambil inspirasi dari pendekatan China, Jerman dapat meningkatkan posisinya di arena perdagangan global dan lebih baik mengamankan masa depannya.
Potensi kolaborasi Jerman-Turkiye
Diversifikasi ekonomi Jerman dapat sangat diuntungkan dengan memperkuat hubungan dengan Turkiye.
Dengan lokasi geografis yang strategis, tenaga kerja yang dinamis, dan basis industri yang berkembang pesat, Turkiye menjadi mitra yang menjanjikan bagi ambisi ekonomi Jerman.
Industri-industri Turkiye, terutama di sektor otomotif, teknologi, dan energi, sangat cocok dengan kebutuhan Jerman dan dapat melengkapi rantai pasokannya dengan efektif.
Selain itu, serikat pabean antara Turkiye dan UE memberikan Jerman pengurangan biaya yang signifikan serta efisiensi logistik, yang semakin meningkatkan potensi kerjasama.
Pertumbuhan ekonomi Turkiye yang kuat menawarkan peluang besar untuk berkontribusi pada jaringan perdagangan Jerman.
Kolaborasi yang lebih erat antara Jerman dan Turkiye tidak hanya akan memperkuat daya saing Jerman di pasar global tetapi juga memberikan diversifikasi yang penting untuk mengurangi risiko ekonomi.
Di luar ranah ekonomi, kemitraan ini memiliki potensi untuk mempererat hubungan politik, membuka jalan bagi hubungan bilateral yang lebih kuat dan strategis.
Jerman berada di persimpangan kritis, memerlukan transformasi strategis mendesak untuk mengatasi tantangan ekonominya dan menyesuaikan diri dengan dinamika perdagangan global yang terus berkembang.
Mengamankan posisinya dalam perdagangan global dan menyelesaikan masalah ekonomi domestik membutuhkan langkah-langkah jangka panjang yang berpandangan jauh ke depan.
SUMBER: TRT WORLD DAN AGENSI