Terletak di jantung Istanbul, Arsip Ottoman bukan hanya sekadar tempat penyimpanan dokumen sejarah, tetapi juga sebuah portal menuju masa lampau, bukti nyata warisan abadi Kesultanan Ottoman (Usmani).
Saat melangkah ke dalam aula megah Arsip Ottoman yang terletak di distrik Kagithane, Istanbul, Anda akan langsung disambut oleh aroma khas kertas kuno, seolah-olah bisikan dari berabad-abad yang lalu. Arsip ini adalah tempat penyimpanan dokumen terbesar dan terpenting dari era Ottoman di Istanbul.
Di sini, di tengah koleksi dokumen yang terjaga dengan sangat baik, pengunjung memulai perjalanan melalui catatan sejarah salah satu kesultanan paling berpengaruh dan kekaisaran yang paling bertahan lama di dunia. Arsip ini sering digambarkan sebagai "memori Kesultanan Ottoman", tempat di mana kehidupan kompleks selama Kesultanan tersebut dilestarikan untuk generasi mendatang.
Di sinilah dekrit para sultan, sertifikat tanah, catatan pengadilan, perintah militer, hingga korespondensi pribadi antara penguasa berkumpul untuk menceritakan kisah epik. Namun, di luar signifikansi sejarahnya, arsip ini juga mencerminkan pentingnya melestarikan masa lalu, membuat sejarah dapat diakses, dan menjalin hubungan yang tak terputus dengan memori kolektif kita. Arsip Ottoman bukan hanya sebuah tempat — ini adalah portal menuju masa lalu, di mana sejarah menjadi hidup dan gema Kesultanan terasa.
“Koleksi dokumen terbesar dalam inventaris Kepresidenan Arsip Negara adalah dokumen Arsip Ottoman. Warisan besar ini, yang diwariskan dari Kesultanan Ottoman ke Republik Türkiye, dilestarikan di Kompleks Arsip Ottoman di Istanbul, sesuai dengan standar internasional dan kondisi zaman. Di sini terdapat sekitar 100 juta dokumen dan 400 ribu buku catatan,” kata Prof. Ugur Unal, Kepala Arsip Negara Kepresidenan Türkiye, kepada TRT World.
Salah satu fitur luar biasa dari Arsip Ottoman adalah keberagaman dokumen yang dimilikinya. Arsip ini tidak hanya menceritakan sejarah politik Kesultanan, tetapi juga mengungkapkan kehidupan kompleks di dalamnya.
Untuk menavigasi arsip yang luas ini secara efektif, seseorang harus memiliki pemahaman yang kuat tentang bahasa dan tulisan Turki Ottoman. Ditulis dalam aksara Arab, bahasa ini adalah bahasa administrasi Kesultanan.
“Runtuhnya Kesultanan Ottoman menyebabkan berdirinya lebih dari 40 negara modern di wilayahnya. Catatan dari wilayah-wilayah tempat negara-negara ini didirikan juga ada di arsip ini. Penulisan sejarah wilayah seperti Balkan, Eropa Timur, Timur Tengah, Afrika Utara, wilayah utara Laut Hitam, dan Kaukasus akan tetap tidak lengkap jika Arsip Ottoman tidak dikonsultasikan. Konsultasi dengan Arsip Ottoman akan tetap menjadi bagian penting dan integral dalam penulisan sejarah abad pertengahan dalam konteks hubungan antarnegara. Arsip ini bukan hanya untuk orang Turki, tetapi untuk seluruh dunia,” tambah Unal.
Beberapa dokumen dalam koleksi besar Arsip ini menonjol karena signifikansi sejarahnya. Misalnya, firman Kesultanan (dekrit kerajaan), dokumen yang tidak hanya menarik secara historis tetapi juga terus memengaruhi urusan kontemporer, termasuk pemahaman dan sengketa hukum. Arsip Ottoman telah memainkan peran penting dalam menjelaskan sengketa properti, terutama di wilayah yang pernah berada di bawah kekuasaan Ottoman, termasuk klaim tanah Palestina yang direbut oleh Israel.
Pengunjung juga dapat menemukan dokumen yang mengungkapkan keragaman budaya Kesultanan. Manuskrip yang merinci karya para filsuf, penyair, sejarawan, serta teks-teks keagamaan memberikan wawasan tentang iklim intelektual pada masa itu. Manuskrip bergambar yang indah, dikenal sebagai tezhip, menunjukkan kecanggihan artistik para penulis Ottoman.
“Dalam konteks arsip, hanya sedikit di dunia yang dapat dibandingkan dengan Arsip Ottoman. Kebetulan, semuanya adalah peninggalan dari Kesultanan masa lalu. Hampir semuanya terletak di ibu kota besar Eropa yang menjadi pusat Kekaisaran pada abad-abad sebelumnya. Sebagian besar Kekaisaran ini menyelesaikan institusionalisasi arsip mereka masing-masing pada abad ke-19, seperti yang kita lakukan. Arsip Inggris, Prancis, Prusia (Jerman), Rusia, dan Belanda semuanya memiliki karakteristik yang kami sebutkan,” kata Unal kepada TRT World.
Para peneliti dan sejarawan dari seluruh dunia berbondong-bondong ke Arsip Negara Istanbul dan perpustakaan serta museum pelengkap lainnya di kota ini. Mereka dengan teliti menguraikan dokumen kuno untuk mengungkap misteri sejarah, merekonstruksi masa lalu, dan berkontribusi pada pemahaman yang lebih dalam tentang sejarah Ottoman dan pengaruhnya yang bertahan hingga dunia modern.
SUMBER: TRT WORLD