Dunia
5 menit membaca
Ancaman perang siber yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI) adalah nyata dan dapat mengganggu dunia
Kemajuan pesat dalam kecerdasan buatan (AI) telah membuka kemungkinan penggunaannya dalam serangan siber yang menargetkan infrastruktur militer dan fasilitas penting di seluruh dunia.
Ancaman perang siber yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI) adalah nyata dan dapat mengganggu dunia
Meskipun dunia belum menyaksikan penggunaan AI dalam perang militer konvensional, ada kekhawatiran global yang semakin meningkat bahwa skenario tersebut hanya masalah waktu. Foto: Reuters
27 Februari 2025

Pada musim panas 2017, dunia menyaksikan apa yang kemudian dipastikan sebagai serangan siber terburuk dalam sejarah, yang melumpuhkan perusahaan-perusahaan swasta dan institusi publik serta menyebabkan kerugian finansial yang sangat besar, hingga mencapai $10 hingga $19 miliar secara global.

Ransomware NotPetya, demikian serangan ini dinamakan, sebagian merupakan operasi siber yang didukung oleh AI, karena jaringan bot yang diduga menggunakan teknologi AI dibangun untuk mengeksploitasi kerentanannya dalam sistem-sistem yang ada.

Jika serangan serupa terjadi hari ini, ketika teknologi AI lebih maju dan efektif, kemungkinan besar serangan tersebut akan menyebabkan kerugian finansial yang jauh lebih besar dan bahkan mengganggu perdagangan global.

Tidak mengherankan jika pemerintah di seluruh dunia kini semakin memperhatikan potensi ancaman yang ditimbulkan oleh AI, terutama jika jatuh ke tangan peretas dan kelompok tidak etis lainnya.

Negara-negara pun sedang memperkuat aktivitas militer dan keamanan mereka untuk melindungi diri dari serangan semacam itu.

Perkembangan AI telah semakin pesat, terutama dalam beberapa tahun terakhir. Seiring dengan semakin luasnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan sistem seperti model bahasa besar (LLM) di berbagai bidang, negara-negara harus terus mengikuti perkembangan sektor ini.

Inovasi yang dibawa oleh AI untuk negara-negara telah terbukti efektif di banyak bidang.

Tentara, layanan intelijen, dan lembaga penegak hukum, khususnya, kini melaksanakan operasi yang lebih efektif berkat serangan siber yang didukung oleh AI.

Selain itu, kemampuan ofensif dari pasukan siber negara-negara maju dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dengan sistem yang didukung oleh AI.

Ada banyak contoh hal ini di berbagai belahan dunia, tetapi sebagian besar terbatas pada operasi pengaruh dan spionase.

Namun, serangan siber yang merusak dan menghancurkan yang didorong oleh AI dan menargetkan infrastruktur kritis belum terjadi.

Bisakah AI menentukan perang siber?

Meskipun dunia belum menyaksikan penggunaan AI dalam peperangan militer konvensional, kekhawatiran global semakin meningkat bahwa skenario tersebut hanya tinggal menunggu waktu.

Misalnya, Inggris mengklaim bahwa Rusia dan negara-negara bermusuhan lainnya berusaha meningkatkan efektivitas serangan siber mereka dengan menggunakan teknologi AI dan berencana untuk secara khusus menargetkan infrastruktur kritis.

Negara-negara Barat juga mengatakan bahwa negara-negara seperti Rusia dan China dapat menggunakan sistem AI dalam perang siber di masa depan, meskipun kedua negara tersebut membantah tuduhan tersebut sebagai propaganda Barat.

Para ahli militer mengatakan bahwa bukan hanya China dan Rusia, tetapi semua negara bisa melakukan serangan siber yang didukung AI. AS, Inggris, dan banyak negara Eropa telah berinvestasi dalam domain ini dalam beberapa tahun terakhir.

Lebih dari satu dekade yang lalu, sebuah worm komputer jahat yang diciptakan bersama oleh AS dan Israel digunakan untuk menyerang dan merusak program nuklir Iran.

Aktornya, yang mampu melakukan serangan siber yang menghancurkan terhadap negara pesaing atau musuh melalui layanan intelijen dan pasukan sibernya, dapat melakukan operasi yang akan menyebabkan dampak yang jauh lebih merusak dengan serangan siber yang didukung oleh AI.

Misalnya, infrastruktur transportasi, energi, dan komunikasi, serta seluruh jaringan institusi keuangan dan lembaga pemerintah yang kritis, dapat dihancurkan oleh serangan semacam itu.

Tentu saja, banyak negara yang sedang bekerja untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan menghadapi ancaman semacam ini. Unit atau lembaga baru didirikan untuk melawan serangan siber yang didorong oleh AI. Pada saat yang sama, strategi dan kebijakan sedang dikembangkan untuk membangun infrastruktur dan sistem yang dapat melawan serangan semacam itu.

Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintahan Biden meluncurkan studi yang menentukan langkah-langkah yang harus diambil oleh institusi keuangan, khususnya, untuk melindungi operasi mereka.

Selain itu, dicatat bahwa aktivitas penipuan yang didukung oleh AI, seperti deepfake dan operasi penipuan perbankan, juga telah meningkat dan harus dilawan.

Dalam konteks ini, penggunaan AI dalam peperangan siber menunjukkan situasi yang berbahaya dan mengkhawatirkan baik dari segi keamanan nasional maupun stabilitas global.

Menghadapi skenario yang terus berkembang ini, pertanyaan besar yang dihadapi dunia adalah: Seberapa serius ancaman peperangan siber yang didukung AI dan apakah kita harus khawatir?

Untuk dunia agar bersiap

Peperangan siber yang didorong oleh AI berbeda dari serangan siber tradisional dalam beberapa cara penting, dan perbedaan-perbedaan ini menjadikannya lebih berbahaya.

Selain itu, AI dapat berpotensi membuat serangan siber lebih efektif, lebih cepat, dan lebih terarah. Dalam hal ini, kita dapat mengatakan bahwa AI memberikan keuntungan di area-area tertentu:

  • Automasi: AI dapat mengurangi proses perencanaan dan pelaksanaan serangan yang biasanya membutuhkan waktu berhari-hari atau berminggu-minggu secara manual menjadi hanya beberapa jam atau menit. Misalnya, pemindaian sistem atau deteksi kerentanannya yang biasanya memakan waktu berhari-hari secara manual dapat diselesaikan dalam hitungan detik berkat algoritma AI.

  • Tidak terdeteksi: Malware yang dikembangkan dengan algoritma AI dapat lebih baik menyembunyikan perilakunya untuk melewati sistem pertahanan tradisional dan dengan demikian menghindari deteksi.

  • Pembelajaran waktu nyata: Serangan siber yang didorong oleh AI dapat beradaptasi dengan langkah-langkah pertahanan dalam waktu nyata dan mengeksploitasi kerentanannya secara dinamis. Dengan menganalisis respons sistem pertahanan, AI dapat menyesuaikan serangannya dan meningkatkan efektivitasnya.

  • Serangan tingkat lanjut: AI dapat menggunakan analitik data besar untuk meluncurkan serangan yang lebih canggih dan terarah, secara spesifik menargetkan profil individu atau perusahaan untuk menciptakan ancaman yang lebih personal. AI juga dapat meluncurkan serangan di beberapa titik secara simultan, memungkinkan operasi berskala besar.

Kekhawatiran semacam ini dapat dilihat sebagai tanda integrasi sistem yang didorong oleh AI ke dalam medan pertempuran. Dalam hal ini, AI tidak hanya akan menjadi alat, tetapi akan menjadi bagian penting dari strategi perang di tingkat global.

Harus dicatat juga bahwa tidak peduli seberapa cepat langkah-langkah dikembangkan untuk melawan serangan yang didukung AI, kompleksitas ancamannya memiliki potensi untuk mengalahkan upaya-upaya ini.

Penting untuk menyadari bahwa peperangan siber yang didorong oleh AI bukan lagi fiksi ilmiah, tetapi kenyataan.

Penggunaan teknologi ini oleh negara-negara maju menimbulkan ancaman serius bagi infrastruktur militer dan sipil. Oleh karena itu, beberapa negara mungkin tidak dapat mengatasi ancaman ini sendirian.

Karena alasan itulah, kerja sama strategis antarnegara dan investasi yang lebih besar dalam teknologi pertahanan mungkin akan menjadi kebutuhan yang mendesak.

SUMBER: TRT WORLD DAN AGENSI

Intip TRT Global. Bagikan umpan balik Anda!
Contact us