The Eyes of Gaza: Perjuangan Plestia Alaqad untuk menceritakan kisah Palestina
Dunia
5 menit membaca
The Eyes of Gaza: Perjuangan Plestia Alaqad untuk menceritakan kisah PalestinaJurnalis muda Palestina yang dinobatkan sebagai salah satu dari 100 perempuan paling berpengaruh di tahun 2024, bertekad untuk membagikan ketangguhan rakyatnya di tengah kehilangan yang tak terbayangkan.
Plestia Alaqad melaporkan realitas di lapangan di Gaza tepat setelah Israel memulai serangan brutalnya pada Oktober 2023 (Courtesy: Plestia Alaqad).
27 Februari 2025

HAJAR ELKAHLAOUI

Pada 19 Januari 2025, gencatan senjata kedua diumumkan, mengakhiri serangan paling mematikan oleh Israel dalam sejarah. Bagi Plestia Alaqad, seorang jurnalis muda Palestina, jeda kekerasan yang rapuh ini membawa kelegaan sekaligus kesedihan. Meskipun bersyukur bahwa pembunuhan telah berhenti, ia tetap tidak dapat kembali ke Gaza, rumah tercintanya yang masih dilanda kehancuran.

“Saya rasa tidak ada kata yang bisa menggambarkan perasaan saat genosida berakhir,” katanya kepada TRT World dari Beirut, Lebanon. “Saya hanya berharap masa depan yang lebih baik untuk Palestina dan rakyat Palestina karena kami pantas mendapatkannya. Saya merasa bersyukur bahwa begitu banyak pembunuhan telah berhenti. Tapi saya bertanya-tanya: mengapa kita hidup di dunia di mana genosida seperti itu dibiarkan terjadi?”

Meskipun jauh dari tanah airnya, suara Alaqad menggema diseluruh dunia. Dinobatkan sebagai salah satu dari 100 wanita paling berpengaruh tahun 2024, ia bertekad untuk memastikan dunia tidak melupakan kisah-kisah Gaza.

Saat ini, Alaqad adalah salah satu jurnalis termuda di Gaza, penyintas genosida, dan seorang reporter pemberani yang berdedikasi untuk menceritakan kisah-kisah rakyatnya.

Di usia 23 tahun, ia telah mengatasi rasa takut untuk berbicara menentang Israel, menghadapi hasbara – strategi propaganda yang digunakan Israel untuk mendiskreditkan mereka yang mengkritik negara Zionis tersebut. Melalui unggahan-unggahan kuatnya di media sosial, ia mengungkapkan tidak hanya kenyataan pahit hidup di bawah pendudukan Israel tetapi juga ketahanan dan kemanusiaan yang tetap bertahan di antara rakyat Palestina.

“Di Gaza, kami tidak melihat diri kami sebagai angka,” kata Alaqad kepada TRT World. “Kami mengenal satu sama lain melalui nama, cerita, dan hubungan kami yang mendalam sebagai komunitas.”

Setelah mengalami empat kali serangan militer sebelum eskalasi dahsyat yang menghancurkan pada Oktober 2023, hubungan Alaqad dengan tanah airnya sangat mendalam. Meskipun menyaksikan kengerian, kisah-kisahnya menjaga ikatan sosial yang menyatukan Gaza.

“Saya menyukai betapa kecilnya Gaza, di mana hampir semua orang saling mengenal satu sama lain,” katanya. “Pegawai supermarket bukan hanya pegawai supermarket, dan guru bukan hanya guru, mereka adalah bagian dari hidup Anda.”

Seorang pendongeng sejak awal

Kecintaan Alaqad dalam mendongeng dimulai di kelas enam sekolah dasar, terinspirasi oleh guru bahasa Arabnya, Rawan, yang juga seorang jurnalis. Pada kelas tujuh, ia mulai mengisi buku catatan dengan tulisan dan puisi dalam bahasa Arab dan Inggris.

Setelah lulus dengan gelar di bidang Media Baru dan Jurnalisme dari Universitas Mediterania Timur di Republik Turki Siprus Utara, ia kembali ke Gaza pada usia 21 tahun dengan misi: menantang stereotip dan membagikan kisah-kisah autentik dari tanah airnya.

Ia tidak ingin Gaza hanya dilihat sebagai gambaran kehancuran. Ia ingin menunjukkan esensi sejati komunitasnya. “Saya memutuskan untuk kembali ke Gaza agar orang-orang dapat melihat tanah saya melalui mata saya,” kenangnya.

Sayangnya, kepulangannya bertepatan dengan kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat pembersihan etnis. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejak 7 Oktober 2023, operasi militer Israel telah menewaskan setidaknya 48.200 warga Palestina dan melukai setidaknya 111.660 orang. Dan Alaqad menyaksikan semuanya.

“Tiga hari setelah 7 Oktober, pengeboman begitu intens sehingga ada serangkaian serangan di gedung saya,” kenangnya. “Saya merekam sebuah video dan itu menjadi viral. Sejak saat itu, saya tidak berhenti merekam dan menunjukkan kepada dunia apa yang terjadi di Gaza.”

Kisah-kisahnya yang jujur tentang kehidupan di bawah pengepungan Israel menggema secara global. Pengikut Instagram-nya melonjak dari 3.000 menjadi lebih dari 4 juta. Sebagai pengakuan atas dampaknya, ia dinobatkan sebagai salah satu dari 100 wanita paling berpengaruh tahun 2024.

“Saya ingin dunia mengetahui nama-nama kami dan cerita-cerita kami,” jelasnya. “Bahkan selama genosida, pengusiran paksa, dan pembersihan etnis, rakyat Gaza selalu bersikap baik hati.”

Ketika jurnalis menjadi sasaran

Menurut laporan Committee to Protect Journalists, 167 jurnalis telah tewas dan 71 terluka sejak 7 Oktober, dengan setidaknya 11 jurnalis dan dua pekerja media secara langsung menjadi target pasukan Israel. CPJ mengklasifikasikan kematian mereka sebagai pembunuhan.

Selama gencatan senjata singkat pada November 2023, Alaqad membuat keputusan sulit untuk meninggalkan Gaza karena meningkatnya bahaya bagi jurnalis di lapangan.

Kasus tragis jurnalis Wael Dahdouh menyoroti dampak menghancurkan dari pendudukan Israel. Pada 25 Oktober, serangan udara Israel merenggut nyawa istrinya, putra Mahmoud yang berusia 15 tahun, putri Sham yang berusia 7 tahun, dan cucu Adam yang berusia 1 tahun. Kemudian, pada 7 Januari 2024, putra sulungnya Hamza, yang juga seorang jurnalis, tewas saat mencoba mewawancarai warga yang mengungsi.

“Yang paling menakutkan bagi saya adalah melihat keluarga para jurnalis diserang dan dibunuh,” kata Alaqad.

Pelarian yang terpaksa

Alaqad pertama kali memasuki Mesir bersama ibu, saudara perempuannya, dan neneknya melalui perbatasan Rafah selama gencatan senjata pertama, yang hanya berlangsung seminggu. Mereka kemudian dapat pindah ke Australia berkat kewarganegaraan pamannya. “Saya pikir saya akan kembali dalam dua atau tiga minggu,” katanya. “Kami tidak menyangka serangan ini akan berlangsung begitu lama. Sekarang saya bertanya-tanya kapan saya bisa kembali.”

Ia dianugerahi Beasiswa Memorial Shireen Abu Akleh, yang dinamai untuk menghormati jurnalis Palestina-Amerika yang dibunuh oleh tentara Israel pada 2022. Beassiswa ini memungkinkannya melanjutkan gelar master di bidang media di Universitas Amerika di Beirut, yang ia mulai pada Agustus 2024.

Setelah mendokumentasikan genosida dari Gaza, Alaqad menemukan cara baru untuk memperjuangkan hak-hak Palestina. Pengalamannya menjadi dasar untuk buku mendatangnya The Eyes of Gaza, yang akan dirilis pada 17 April oleh Pan Macmillan.

“Buku ini memungkinkan saya menunjukkan Gaza melalui sudut pandang dan berbagi kisah-kisah rakyat Palestina,” jelasnya. Ia mulai menulisnya pada 7 Oktober 2023, ketika serangan Israel dimulai, memadukan puisi dan narasi tentang pembantaian yang ia saksikan di bawah pemboman Israel.

SUMBER: TRT WORLD

SUMBER:TRTWorld
Intip TRT Global. Bagikan umpan balik Anda!
Contact us